Perempuan di Gambut Medang Kampai

Sumini (48) belum juga berhenti berbicara, meski sudah lebih dari 20 menit berdiri dan menjelaskan bahan-bahan sekaligus cara membuat pelet untuk ikan lele.

Ia menjelaskan hal itu di hadapan pejabat, wartawan, anggota kelompok-kelompok perempuan dan masyarakat di Dusun Selinsing, Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, pada minggu pertama Juli 2018.

Tampak seperti sedang praktik memasak, anggota Kelompok Perempuan Bunga Melati dari Desa Teluk Makmur itu, menjelaskan tahap demi tahap tentang bagaimana daun singkong berbatang merah, daun pakis, daun ubi jalar ungu, kedelai, azolla (tanaman air sejenis paku), dan daun lamtoro kering dicampur dengan garam dan probiotik, lalu digiling barkali-kali dengan mesin penggiling serupa untuk menggiling daging, hingga akhirnya menjadi pakan ikan berprotein tinggi.

Belum terlalu lama Sumini dan sekitar 19 anggota Kelompok Perempuan Bunga Melati lainnya menguasai cara membuat pelet ikan dari bahan-bahan yang relatif mudah mereka dapatkan di sekitar lingkungan tinggalnya.

Kini dirinya sudah tampak fasih berbicara teknik pembuatan pelet ikan yang akan digunakan untuk membudidayakan lele di kolam-kolam bioflok.

Sumini begitu bersemangat. Setelah sejak Februari 2017 dirinya dan anggota kelompok lainnya mendapat pendampingan dari Riau Women Working Group (RWWG) cara berbudidayakan ikan lele dengan teknologi bioflok secara lengkap, termasuk membuat pakannya. Pada awal Agustus 2018 mereka akan menikmati panen perdana dari satu hingga dua kolam berisi hingga 1.000 ekor.

Jika mendengar pernyataan Kepala Produksi Dinas Perikanan Kota Dumai Surya, kebutuhan ikan air tawar di tempat itu mencapai 4,6 ton per hari dan baru bisa dipenuhi sekitar 2,6 ton.

Oleh karena itu, kelompok-kelompok perempuan dari Medang Kampai ini berpeluang menutup kekurangan protein dari ikan air tawar dengan memasok lele hingga 2.000 kilogram (kg) per hari ke kota penghasil minyak tersebut.

Kalau pun Sumini dan rekannya tidak berhasil menjualnya dalam bentuk segar, masih ada cara lain, yakni dengan mengolahnya menjadi bakso ikan, abon, “nugget”, atau salai.

Cut Utari, salah seorang pendamping dari RWWG, menyebut empat kelompok perempuan yang mereka inisiasi terbentuk di Medang Kampai ini juga telah dibekali cara mengolahnya sehingga bisa memberikan nilai tambah pada ikan lele.

Harapan Baru Tidak berlebihan jika Sumini menganggap ini suatu harapan baru bagi dirinya dan tentu juga keluarganya. Dari lahan perkebunan kelapa sawit seluas satu hektare (ha) yang dimiliki keluarganya, total ada 300 pohon yang akan panen dua kali dalam satu bulan dan menjadi andalan sumber pendapatan utama keluarga.

Jika seluruh pohon kelapa sawit tersebut berbuah maka keluarga Sumini akan mendapat dua ton tandan buah segar.

Dalam kondisi harga sawit yang jatuh akhir-akhir ini, Sumini dan suaminya hanya mampu menjual di kisaran harga Rp1.000 per kg, sehingga keluarganya hanya mengantongi sekitar Rp2 juta setiap bulannya. Hal itu pun belum dikurangi biaya operasional.

Namun, kata Sumini, persoalannya, kini sangat jarang 300 pohon sawitnya berbuah semua, sementara biaya perawatan untuk pemberian pupuk dan pembersihan gulma makin hari makin tinggi. Terlebih kondisi musim dan cuaca yang berubah, sering kali membuat panen sawit di kebunnya berkurang.

Hal itu yang membuat Sumini berjanji tidak akan menyerah kalaupun pada tiga bulan pertama budi daya ikan lele dengan bioflok tersebut gagal.

“Kami tidak mau berhenti kalau usaha pertama ini gagal, kami akan terus coba. Ini semua tergantung dengan kekompakan dan ketelatenan ibu-ibu saja,” ucapnya.

Bahkan, Sumini sudah punya rencana bersama suaminya untuk membuat kolam bioflok sendiri supaya bisa budi daya lele.

Dirinya mengaku tidak mau kalah dengan ibu-ibu dari kelompok perempuan lainnya yang sudah lebih dahulu sukses dan mampu menyumbang perekonomian keluarganya.

Keluhan senada soal menurunnya pendapatan keluarga juga terdengar dari Ramlah (37), salah satu anggota Kelompok Perempuan Bunga Desa yang kebetulan menjadi tuan rumah kegiatan dialog dan sosialisasi program mitigasi berbasis lahan yang diinisiasi Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)-RWWG dengan pemerintah daerah, mitra, dan penerima manfaat.

Kebun kelapa sawit milik keluarga Ramlah seluas 4,5 ha yang terhampar di atas lahan gambut dan sebagian ikut terbakar pada 2015 kondisinya makin rawan terbakar.

Keadaan tersebut membuat pendapatan per bulan keluarganya menurun, sedangkan biaya perawatan kebun kelapa sawitnya menjadi makin besar.

Ibu rumah tangga dengan empat orang anak ini, berharap lima kolam bioflok yang sejak awal Januari 2018 terbangun di samping rumah dari bahan kayu, benar-benar bisa menghasilkan dan membantu perekonomian keluarganya.

Dirinya pun tenang karena tidak perlu pergi jauh untuk berbudidaya, cukup pergi ke samping rumahnya saat pagi dan sore hari, memberi pakan ikan-ikan lele untuk bisa dipanen tiga bulan berikutnya.

Ketua Masyarakat Adat Medang Kampi Abdul Muluk di sela-sela dialog itu, mengakui memang sudah saatnya kaum ibu diberikan kesempatan untuk menghasilkan sesuatu guna membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Mayoritas masyarakat di Medang Kampai menjadi pekerja di perusahaan sawit.

Kalau pun mereka memiliki lahan, kebanyakan tidak tergarap dengan optimal setelah adanya peraturan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Sebagian dari mereka, menurut Abdul, bahkan masih tidak tahu harus mengerjakan apa.

Tak Lama Direktur Eksekutif RWWG Sri Wahyuni lantas menerangkan bahwa sebenarnya tidak perlu waktu terlalu lama untuk membangun kolam-kolam terpal berwarna biru untuk budi daya lele di samping rumah beberapa anggota kelompok perempuan di Kelurahan Pelintung, Kelurahan Guntung, Kelurahan Mundam dan Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai ini.

Justru penguatan kapasitas 80 perempuan dari empat kelompok yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dengan keseharian mengasuh anak, memasak, mengatur rumah, dan sesekali membantu mengambil tandan buah segar sawit saat panen ini yang memakan waktu lebih lama.

Perempuan yang akrab disapa Ayu itu, mengatakan memilih satu orang yang tepat sebagai motivator di antara 20 orang dalam satu kelompok perempuan yang bisa menggerakkan dan memberikan semangat satu sama lain di antara mereka sebagai hal yang penting.

Hal itu, menjadi modal awal untuk memastikan kelompok-kelompok perempuan tetap berdiri dan berkarya.

Setidaknya 10 bulan waktu dihabiskan untuk meyakinkan dan terus meyakinkan mereka agar tetap hadir mengikuti seluruh pembelajaran budi daya ikan lele dengan teknologi bioflok, hingga mengembangkan produk-produk pangan berbahan dasar ikan air tawar ini.

Sampai akhirnya mereka juga tahu cara membuat pelet, mengeluarkan endapan kotoran ikan di dasar bioflok dua hari sekali, jadwal memberi makan ikan dua kali sehari, hingga menetralkan tingkat keasaman air selama 10 hari sebelum akhirnya bisa digunakan untuk budi daya lele.

Ayu mengatakan lanskap Medang Kampai dominan merupakan hamparan lahan gambut dan termasuk mudah sekali terbakar.

Melakukan budi daya lele dengan teknologi bioflok dipilih karena jika kondisi alam, cuaca, suhu, dan udara tidak terlalu bersahabat bagi kaum perempuan, mereka tidak perlu pergi terlalu jauh dari rumah, namun tetap bisa memiliki penghasilan.

Dirinya mengatakan memang tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak kembali lagi berladang dan membuka lahan dengan cara membakar.

Namun, apa yang dilakukan RWWG di tempat itu setidaknya memberikan pencerahan bahwa mereka tidak boleh lagi hanya bergantung kepada kelapa sawit, karena nyatanya masih ada alternatif usaha lain yang juga memberi hasil.

Harapannya, tidak akan ada lagi 129.813 titik api yang menyala di gambut-gambut Indonesia.

Harapannya tidak akan ada lagi “Ramlah-Ramlah dan Sumini-Sumini” lain yang harus terjebak bersama anak-anaknya dalam udara dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menembus angka 2.000 psi selama berbulan-bulan di Indonesia. (Virna P Setyorini)

Advertisement

Share This Story