Jakarta (ANTARA) - Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan orang tua dan juga guru seharusnya bisa menjadi teladan dan contoh bagi anak untuk menggunakan gawai (gadget) yang bijak dan sehat dengan tidak mengakses pornografi.

“Bahaya kecanduan pornografi terhadap anak sangat meresahkan karena bisa mengganggu tumbuh kembang anak dan merusak kesehatan mental,” kata Retno melalui siaran pers tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Oleh karena itu, Retno menyesalkan video seorang guru yang kedapatan menonton video mesum melalui perangkat laptop, komputer jinjing yang terhubung dengan layar proyektor saat mengajar di ruang kelas, yang beredar viral melalui media sosial Instagram.

“Guru tersebut kemungkinan juga memiliki anak. Sebagai orang tua, seharusnya dia juga menjadi teladan dan contoh bagi anak-anaknya,” tutur Retno.

Retno Listyarti mengatakan kecanduan pornografi pada anak juga dapat merusak otak sehingga menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan emosional dan menimbulkan sikap agresif yang memicu anak melakukan pemerkosaan.

Retno mencontohkan kasus seorang anak difabel berusia lima belas tahun yang diperkosa puluhan kali oleh kakak kandungnya yang kecanduan pornografi yang dia akses melalui ponsel cerdas di Kabupaten Pringsewu, Lampung.

“Ada juga kasus remaja 17 tahun yang memperkosa anak 10 tahun karena kerap menonton pornografi,” katanya.

Retno mengingatkan bahwa angka anak-anak yang mengakses situs pornografi melalui internet di Indonesia jumlahnya cukup tinggi.

Menurut Survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Katapedia yang dipublikasikan pada tahun 2016, paparan pornografi mencapai 63.066 kejadian melalui situs pencari Google, Instagram, media daring dan berbagai situs.

“Itu belum dari buku bacaan seperti komik dan buku cerita yang memiliki unsur pornografi,” ujarnya.

Sementara itu, survei Kementerian Komunikasi dan Informatika menemukan sebanyak 65,34 persen anak usia sembilan tahun hingga 19 tahun menggunakan gawai, termasuk untuk mengakses internet.

“KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sendiri sepanjang tahun 2018, menerima 104 pengaduan kasus pornografi anak,” tuturnya.