Ditengah umat Islam masih merayakan Idul Fitri 1440 H, hari ini tanggal 6 Juni 2019 juga bertepatan hari lahirnya Soekarno, ‘Sang Proklamator’ Indonesia. Mirisnya, putra sang fajar ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 2012, setelah Indonesia 50 tahun lebih merdeka. Pemberian penghormatan paling tertinggi itu langsung diberikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono kepada anak pertamanya, Megawati Soekarnoputri di Istana Negara.

Semasa hidupnya, Bung Karno telah berjasa besar memerdekan bangsa ini menjadi sebuah negara yang berdaulat. Bahkan, para pemimpin dunia pun sangat menghormati dan mengagumi ideologi yang dia gagas. Anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Nyoman Srimben ini dikenal tokoh yang menggagas ideologi Marhaen.

Advertisement

Bakat kepemimpinannya menentan kolonial penjajahan Belanda semakin terlihat ketika dia kuliah di Technische Hoogeshool (1920-1926) sekarang berubah nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak hanya itu saja, berbagai penderitaan, dari masuk penjara tahun 1930 di Lapas Sukamiskin, sampai diasingkan ke beberapa tempat pengasingan sudah dialaminya sejak masa muda.

Namun Soekarno bukanlah pemuda yang penakut waktu itu. Walau kerap mengalami intimidasi dan teror, sikap keberaniannya bukannya luntur tapi semakin tak terbendung. Masyarakat pribumi pun semakin banyak membicarakan dan mengidolakannya. Sebab selain dirinya cerdas, ia juga memiliki wajah tampan.

Setiap dia memimpin rapat dan pidato politik waktu memimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI) para intel polisi Belanda kerap mengikutinya. Mereka semakin kuatir, karena pergerakan politik Soekarno membahayakan kepentingan penjajahan. Karena setiap pidato politik yang digelorakan Bung Karno mampu melahirkan kesadaran kritis tentang kesadaran nasionalisme.

Setelah negri ini merdeka pada 1945, kharisma kepemimpinannya semakin berwibawa. Masyarakat dunia pun menjulukinya sebagai ‘Singa Podium’ Asia. Diantara sejarah politik internasional yang beliau berhasil membangun kekuatan pemimpin Gerakan Non Blok di negara Asia dan Afrika. Kemudian terjadi pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika, di Bandung, tahun 1955.

Advertisement

Hasil pertemuan itu akhirnya merumuskan pemimpin gerakan non blok tidak berpihak pada kepentingan ideologi dan ekonomi blok barat atau timur. Melainkan mendeklarasikan keinginan sebagai negara yang netral dan independen. Pendiri gerakan ini adalah lima pemimpin dunia yang terdiri dari Gamal Abdul Nasser, presiden Mesir, Soekarno, presiden Indonesia, Pandit Jawaharlal Nehru perdana menteri India, Josip Broz Titopresiden Yugoslavia, Kwame Nkrumah dari Ghana.

Namun ambisi Soekarno menentang segala bentuk imperialisme dunia akhirnya kandas. Kekuasannya digulingkan oleh gerakan mahasiswa tahun 1966. Waktu itu dia dituding ikut mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan penculikan dan pembunuhan 7 perwira jenderal yang dikenal tragedi ‘Lubang Buaya’.

Advertisement

Setelah dia tak berkuasa, pemerintah Orde Baru menetapkannya sebagai tahanan rumah. Selama menjalani status rumah tahanan, ia semakin terasing dan penyakit ginjal yang dideritanya semakin menggerogoti.