Ternate, 18/1 - Masyarakat di Maluku Utara (Malut) diminta tidak memilih calon anggota legislatif (caleg) yang dalam aktivitas kampanyenya merusak lingkungan, seperti memaku alat peraga/bahan kampanye di pohon pelindung.”Salah melihat banyak sekali alat peraga kampanye caleg berupa baliho yang dipaku di pohon pelindung, bahkan ada pohon yang sangaja ditebang karena dianggap menghalangi baliho,” kata pemerhati lingkungan Jafar di Ternate, Jumat.

Tindakan caleg seperti itu, menurut dia, jelas memberi gambaran bahwa yang bersangkutan tidak memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, tidak layak untuk menjadi wakil rakyat di badan legislatif.

Kalau caleg seperti itu sampai lolos menjadi anggota legislatif, dikhawatirkan akan bersikap apatis dengan berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi di tengah masyarakat.

Misalnya, jika ada pencemaran lingkungan dari aktivitas sebuah perusahaan yang merugikan masyarakat sekitarnya, yang bersangkutan bukannya membela kepentingan masyarakat, melainkan berpihak pada perusahaan.

Advertisement

Apalagi, lanjut dia, masalah lingkungan dewasa ini makin kompleks sehingga membutuhkan perhatian serius dari semua pihak terkait, terutama yang memiliki kewenangan atau posisi tawar dalam penanganannya, seperti wakil rakyat di badan legislatif.

Jafar berharap masyarakat berkontribusi untuk melahirkan wakil rakyat yang memiliki kepedulian dan komitmen terhadap masalah lingkungan pada Pemilu 2019 dengan cara memilih caleg memiliki kriteria seperti itu.

Advertisement

Ia juga mengharapkan para caleg yang terpilih pada Pemilu 2019, baik DPRD kabupaten/kota maupun DPR RI, lebih memperhatikan masalah berbagai kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di Malut, terutama yang disebabkan aktivitas perusahaan tambang.

Di Kabupaten Halmahera Timur, misalnya, masyarakat di sejumlah wilayah di kabupaten itu sering mengalami kerugian pada lahan pertanian mereka akibat limpahan lumpur dari aktivitas pertambangan di sekitarnya.