Curhat Petani Milenial ke Presiden

Gorontalo, (Antara)- Petani millenial di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Sulawesi, menyurahkan isi hatinya atau “curhat” ke Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

“Kami sangat mengapresiasi perhatian pemerintah kepada para petani, termasuk petani millenial meski hanya memiliki 1 hektare lahan jagung tapi diberi kesempatan untuk “curhat” ke pak presiden,” ujar Ilyas Lamato, salah satu petani jagung yang mengaku perwakilan dari para petani milenial di Kecamatan Kwandang, Gorontalo, Sabtu.

Kelompok milenial ini menjelaskan, telah meminta tiga hal kepada Presiden Jokowi, yaitu pemerintah bisa memprioritaskan penyaluran bibit jagung varietas Bisi, sebab bibit itu cocok untuk karakteristik lahan pertanian di daerah itu.

Jika menggunakan bibit Bisi, petani bisa memanen 8,5 hingga 9 ton per hektare namun bibit varietas lain hanya mampu memproduksi 4 sampai 5 ton per hektare.

“Kami berharap mendapat bantuan bibit jagung varietas Bisi ataupun suplai yang lebih banyak untuk bibit jenis itu,” ujarnya menuturkan curhat kepada Presiden Jokowi.

Permintaan kedua, tambahnya agar pemerintah meningkatkan jumlah tenaga penyuluh di daerah itu, sebab diakuinya peran para penyuluh pertanian mampu meningkatkan produktivitas petani.

Menurutnya, penyuluh tidak hanya memotivasi namun memberikan solusi saat petani mengalami persoalan pada masa tanam.

Permintaan ketiga, lanjut Ilyas penyediaan pupuk yang memudahkan petani mendapatkannya.

“Kami tidak meminta penambahan kuota, namun pemerintah diharapkan mendistribusikan pupuk melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebab lebih memudahkan petani,” katanya.

Ilyas menyebutkan, petani akan lebih mudah mendapatkan pupuk melalui Bumdes sebab yang dialami selama ini, Bumdes dapat memberikan kemudahan saat petani tidak memiliki modal yang banyak.

Sering petani ingin membeli pupuk namun stoknya habis, tak bisa diperoleh namun lebih sering pula petani tidak memiliki uang untuk membelinya saat pupuk tersedia.

“Jika pupuk dialihkan ke Bumdes, pasti lebih memudahkan petani mendapatkannya apalagi saat tidak memiliki uang sebab Bumdes bisa mengadakannya tanpa membebani petani dengan harga pengganti yang tinggi,” terangnya.

Apalagi, katanya penyediaan bahan-bahan pertanian melalui Bumbes di daerah Gorontalo, akan memutus ketergantungan petani pada jejaring tengkulak.

Oleh : Susanti Sako Editor : Hendra Agusta

Advertisement

Share This Story