Antisipasi Dampak Revolusi Industri 4.0

Jakarta, 21/7 (Atto Sampetoding) - Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menginginkan berbagai pihak terkait dapat mengatasi berbagai dampak yang dapat timbul terkait dengan fenomena revolusi industri 4.0 yang telah dicanangkan pemerintah.

“Saat ini kita sudah memasuki revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi tersebut diduga akan berdampak pada hilangnya 45 hingga 50 juta pekerjaan dalam beberapa waktu ke depan,” kata Hetifah Sjaifudian dalam rilis di Jakarta, Jumat.

Menurut Hetifah, dengan percepatan teknologi tersebut maka diperkirakan akan terdapat banyak pegawai yang kehilangan pekerjaan.

Untuk itu, ujar dia, sudah banyak sekolah yang mulai mengadopsi kurikulumnya dengan berbasis tugas guna meruntuhkan sekat penghalang untuk berpikir kreatif.

Politisi Golkar itu juga berpendapat bahwa rendahnya serapan tenaga terampil dan terdidik dalam pasar tenaga kerja tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri tidak selaras.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Ridwan Hisjam meminta perguruan tinggi di Indonesia menyiapkan langkah strategis bagi lulusannya untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

“Perguruan tinggi, termasuk STIE IBMT harus menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan membentuk ekosistem inovasi ekonomi,” kata Ridwan Hisjam saat menyampaikan orasi ilmiah di acara “Launching STIE IBMT Surabaya Reborn” di Surabaya, Jumat (13/7).

Menurut Ridwan, dalam menyiapkan strategi dalam menghadapi revolusi industri 4.0, perguruan tinggi termasuk STIE IBMT perlu mengarahkan pendidikan berbasis kompetensi dan profesional menuju pendidikan yang berbasis keunggulan.

Sebagaimana diwartakan, Republik Indonesia saat ini memasuki permulaan Revolusi Industri Keempat atau disebut Revolusi Industri 4.0 yang dicirikan dengan digitalisasi, optimalisasi dan optimasi, kustomisasi produksi, otomasi dan adaptasi, dalam berbagai bidang, termasuk dunia pemasaran berbasis teknologi internet kata akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr Kokom Komalasari.

“Selain itu, interaksi manusia dengan mesin, nilai tambah pelayanan dan bisnis, pertukaran data otomatis dan komunikasi, serta penggunaan teknologi internet secara massif,” kata Kokom Komalasari yang juga Sekretaris Dewan Guru Besar UPI dalam siaran pers yang diterima di Medan, Senin (16/7).

Era ini telah mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia industri lapangan pekerjaan, serta pergeseran nilai karakter masyarakat.

Sebelumnya, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Sutirman, menyatakan, era revolusi industri 4.0 menuntut ketersediaan informasi secara cepat dan tepat dengan dukungan teknologi informasi yang mudah diakses dan ditemukan melalui mesin pencari.

“Untuk menghasilkan informasi yang cepat dan tepat diperlukan keterampilan mengelola kearsipan secara digital,” katanya dalam orasi ilmiah peringatan Dies Natalis Ke-7 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Yogyakarta, Kamis (28/6).

Berkaitan dengan hal itu, kata Sutirman, diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten mengelola kearsipan secara digital sesuai dengan tuntutan era revolusi industri 4.0. (MRR)

Advertisement

Share This Story